Pencipta Lagu Mars Tidak Dihargai
BSD City, Serpongkita.com-Pemkot Tangsel dinilai tidak menghargai karya. Lantaran pencipta lagu Mars Kota Tangsel tidak diberikan penghargaan.
Pencipta lagu Mars Kota Tangsel mengeluh karena tidak mendapatkan hadiah terhadap karya ciptanya.
Padahal naskah lagu Mars Tangsel sudah dipersiapkan sejak tahun 2008 saat akan dilakukan pemekaran dari Kabupaten Tangerang.
"Saya sudah tanyakan kepada panitia mengenai hadiahnya, tetapi hanya diberikan plakat saja," ungkap anggota DPRD Kota Tangsel Al Mansyur, ditemui usai launching di Graha Serpong, Serpong, Kamis (19/7).
Dikatakan Al Mansyur semestinya Pemkot memberikan hadiah sebagai bentuk perhatian meski nilainya tidak besar. Walaupun hal tersebut disesalinya, namun pihaknya berharap agar lagu Mars dapat di sosialisasikan ke seluruh masyarakat.
"Kami harap agar di setiap kegiatan pemerintahan, lagu Mars Tangsel dapat dilantunkan dan diingat oleh seluruh pegawai," ucap Politisi PAN itu.
Kepala Kantor Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar)Kota Tangsel, Edi Wahyu menuturkan, mengenai hadiah untuk pencipta lagu Mars Tangsel pihaknya tidak mengetahui. Sebab, lomba lagu Mars Tangsel sudah di laksanakan sejak tahun 2011 dan bukan pada masa kepemimpinan saat ini. Sebelum dijabat Edy Wahyu, Kepala Kantor Budpar Sigit Nugrohadi yang saat ini menjabat Sekretaris Badan Kesbangpolinmas.
"Saat saya menjabat, lagu Mars Tangsel sudah ada sehingga saat ini hanya menjalankan tugas untuk melakukan launching dan tidak tahu tentang hadiah kepada penciptanya," terangnya.
WaliKota Tangsel, Airin Rachmi Diany menuturkan, setelah di launching maka lagu Mars harus digunakan setiap kepala SKPD pada saat acara. Kemudian, Kantor Kebudayaan dan Pariwisata pun harus aktif untuk melakukan sosialisasi terutama kepada kalangan pelajar.
"Jangan sampai nantinya lagu Mars tidak dipergunakan. Maka, Kantor Kebudayaan dan Pariwisata harus gencar melakukan sosialisasi melibatkan semua instansi," katanya.
Diketahui, salahsatu pencipta lagu mars Kota Tangsel adalah Al Mansyur, Yeni Widhawati dan Anwar Gan. Lalu untuk studio recording dilakukan oleh Herry Ageng Trisnady. (dut)





