Pantogarf Rusak, KRL Terlambat
Jadwal kereta api dari Serpong yang seharusnya berangkat pukul 07.10 WIB, terpaksa molor berangkat pukul 07.25 WIB. Hal tersebut dikeluhkan ribuan calon penumpang yang sehari-hari mengandalkan commuter line untuk pergi-pulang kerja ke dan dari Jakarta terlantar.
Hingga saat ini, PT KAI masih memperbaiki kerusakan akibat pantograf yang tersangkut pada Rabu (18/7) malam. Akibatnya, jalur commuter line pun tersendat.
Kahumas Daops I PT KAI Mateta Rizalulhaq mengatakan amburadulnya jadwal keberangkatan lantaran adanya kerusakan pantograf. Namun, kerusakan tersebut saat ini tengah diperbaiki.
"Kita sedang melanjutkan perbaikan ganguan pantograf yang tadi malam rusak," terang Mateta saat hubungi, Kamis (19/7).
Dikatakan Mateta peristiwa itu terjadi pukul 18.25 WIB, Rabu (18.7) di Km 27+58 arah Serpong. Kereta tak bisa lagi berjalan, hingga arus lalu lintas saat ini hanya mengandalkan satu jalur.
"Pengaturan kereta jadi sepur tunggal, satu nggak dipakai dan imbasnya, ada antrean perjalanan kereta api, KRL jadi antre dan keterlambatan," katanya.
Mateta memastikan, proses perbaikan pantograf tidak akan berlangsung lama. Para penumpang diminta bersabar selama ada evakuasi.
"Kalau penumpang di KRL itu sudah dievakuasi ke kereta belakangnya. kerusakan pentograf bisa karena banyak hal, diantaranya adalah tersangkut Karena kan kereta jalannya tidak stabil (bergoyang)," ucapnya.
Menurutnya Pantoraf KRL dari Tanah Abang arah Serpong tersangkut kabel. Akibatnya, terjadi gangguan arus lalu lintas kereta. KRL jurusan Tanah Abang-Serpong bernomor 754 mengalami kerusakan. Alat pantograf yang terpasang di atas KRL tersangkut, hingga menyebabkan jalur tersendat. Pantograf berfungsi mengalirkan listrik.
"Kamis sudah bisa selesai, Jumat sudah bisa menggunakan dua jalur," terangnya.
Diketahui, Pantograf merupakan alat yang menghubungkan listrik dengan badan kereta. Sementara pantauan, di stasiun Serpong dan Rawa Buntu terjadi penumpukan penumpang. Ratusan calon penumpang yang didominasi pegawai yang bekerja di Jakarta harus rela menunggu. Bahkan, sebagian memilih untuk menggunakan tranportasi lain yakni bis. (riz)





