Rabu, 27 Januari 2010
Kota Tangerang Selatan, SerpongKita.com- Untuk menggairahkan minat baca masyarakat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel)sudah saatnya memiliki taman bacaan di tiap-tiap wilayah. Apalagi, di kota otonombaru ini masih ditemukan ratusan warga buta aksara. Dengan adanya taman bacan di lingkungan masyarakat, baik rukun tetangga (RT) danperkampungan, maka secara tidak langsung semua pihak ikut memikirkan anak-anak bangsa, khususnya di Kota Tangsel untuk mengajak lebih terbuka tentang wawasan danpengetahuan.
Selanjutnya, visi Kota Tangsel sebagai kota pendidikan dan religusdapat tercapai.Pembantu Rektor (Purek) II Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah,Ciputat, Dr Amsal Bachtiar, mengatakan, membaca merupakan salah satu cara membukajendela dunia. Dengan membaca seseorang akan dapat mengetahui yang tidak hanyaberkaitan dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat mengetahui seputar perkembangan berita serta fenomena alam dan sebagainya termasuk memajukan daerah dan masyarakat.
“Sangat penting sekali membaca dan sebaiknya membaca dijadikan kegemaran,” kataAmsal, kemarin.Oleh karena itu, lanjut Amsal, pemerintah daerah dan masyarakat perlu membidanilahirnya taman bacaan. Menurutnya, taman bacaan ini akan mampu menggerakkanmasyarakat untuk gemar membaca di samping pendidikan formal yang sudah ada.
Dikatakan Amsal, penyediaan taman bacaan itu bisa dilakukan di tingkat masing-masinglingkungan terdekat, seperti kelurahan, Rukun Warga (RW) dan perkampungan.Dia juga mendukung program yang telah dijalankan Pemkot Tangsel denganmengoperasikan mobil perpustakaan keliling di sekolah-sekolah.
Program tersebut dinilai sebagai salah satu cara yang tepat untuk membiasakan para pelajar untuk gemar membaca. Namun perpustakaan keliling yang ada tersebut tidak menyentuh kaum marjinal yangtidak mampu, sebab biasanya perpustakaan keliling ini masih terbatas disekolah-sekolah perkotaan.
“Perlu ada taman bacaan yang diselenggarakan olehmasyarakat sendiri, sehingga anak-anak mereka bisa lebih dekat mendapatkan saranabelajar,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) pada Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Tangsel Didi Sutisna, jumlah penderita buta aksara di KotaTangsel mencapai 500 orang. “Untuk sementara dan sedang ditangani adalah berjumlahsekitar 500 orang,” jelas Didi. (wan)